Menuju Jamaatul Muslimin Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir

Menuju Jamaatul Muslimin
Buku Menuju Jamaatul Muslimin
Penulis: Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
Soft Cover
Isi: 430 Halaman

Harga: Rp 73.000 diskon 20%
Harga: Rp. 58.000

Sinopsis:
Tidak pernah ada sebuah peradaban yang berkembang tanpa dukungan struktural yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk menuju perkembangan. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme Barat, dan tak boleh dilupakan: Zionisme Internasional.

Jika Pembagunan Peradaban Islam modern telah dimulai secara individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridha, dan seterusnya, maka rintisan pemikiran yang bersifat individual itu disambut secara lebih tertata, di antaranya dua tokoh pemuka dakwah yang tidak bisa dilupakan jika berbicara tentang kebangkitan Islam, yaitu Abul A’la Maududi dengan Jama’at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya. merekalah orang-orang besar Abad ini yang berjasa terhadap perkembangan Islam masa kini.
Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam dan mengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan aqidah yang kokoh dan tak mudah goyah, pemahaman syariah yang syamil (menyeluruh), dan pembenahan akhlaq yang benar. Pembenahannya pun harus dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah.

Kedua tokoh itu pun punya perbedaan sedikit. Maududi dengan Jama’at Islaminya banyak menunjukkan figurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi. Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada ‘mencetak’ kader. Begitu pula pergerakannya yang terbatas di anak benua India-Pakistan.
Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin (Imam Assyahid Hasan Al Banna), meski asy-Syahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia. Sekurang-kurangnya pengaruh pemikiran beliau sudah diterapkan disetiap negara didunia.

Beliau lebih ‘mencetak’ orang daripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, , Musthafa Masyhur, Dr. Ali Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba’io, dan lain-lainnya.

Imam Syahid Hassan al Banna dalam usianya yang pendek yaitu 43 tahun, memang terlalu singkat untuk sampai pada figurisme. Beliau seolah-olah hidup dan dilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakan dan dakwah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Muslimin pada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh para muridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.

Anda sangat layak memiliki buku ini, terutama bagi anda seorang aktifis kebaikan.
-----------------------------

Jual Buku Menuju Jamaatul Muslimin

avatar

Toko Buku Ikhwan - Referensi Buku Muslim Negarawan

Info Order/Pemesanan Buku:

SMS/WA: 085799163188

Chat:

0 komentar:

Post a Comment

 
Toko Buku Ikhwan - Referensi Buku Muslim Negarawan Template Style: Shopping Cart | Support Blogger